Sabtu, 25 Juni 2011

Waduk dan tenaga Air

BAB III
BENDUNG TETAP UNTUK IRIGASI

I. Pemilihan Lokasi Bendung
A. Umum
Lokasi bendung tetap permanen bagi kepentingan irigasi dipilih yang menguntungkan dari segi perencanaan, pengamanan bendung, pelaksanaan, pengoperasian, dampak pembangunan dll.
B. Pemilihan Lokasi Bendung :
Lokasi bendung dipilih atas pertimbangan beberapa aspek yaitu :
1) Keadaan topografi
a. Semua rencana daerah irigasi dapat terairi, sehingga harus dilihat elevasi sawah tertinggi yang akan diari.
b. Bila elevasi sawah tertinggi yang akan diairi telah diketahui maka elevasi mercu bendung dapat ditetapkan.
c. Kedua hal diatas lokasi bendung dilihat dari segi topografi dapat diseleksi.
d. Ketinggian mercu bendung dari dasar sungai dpaat pula direncanakan.
2) Kondisi topografi
a. Ketinggian bendung tidak terlalu tinggi.
b. Trace saluran induk terletak ditempat yang baik.
c. Penempatan lokasi intake yang tepat dilihat dari segi hidraulik dan angkutan sedimen.
3) Kondisi hidraulik dan morfologi sungai di lokasi bendung termasuk angkutan sedimennya adalah faktor yang harus dipertimbangkan yaitu:
a. Pola aliran sungai, kecepatan & arahnya pada waktu debit banjir sedang/kecil.
b. Kedalaman dan lebar muka air pada waktu debit banjir sedang dan kecil.
c. Tinggi MA pada debit rencana, dan Potensi dan distribusi angkutan sedimen.
d. Potensi dan distribusi angkutan sedimen.
Bila persyaratan di atas tidak terpenuhi maka dipertimbangkan pembangunan bandung di lokasi lain misalnya di sudetan sungai atau dengan jalan membangun pengendalian sungai.
4) Kondisi tanah fundasi bendung harus dipertimbangkan dilokasi dimana tanah fundasinya cukup baik sehingga bangunan akan stabil.
5) Biaya pelaksanaan Beberapa alternatif lokasi harus dipertimbangkan, selanjutnya biaya pelaksanaan dapat ditentukan dan cara pelaksanaanya, peralatan dan tenaga.
6) Faktor faktor lain yaitu penggunaan lahan di sekitar bendung, kemungkinan pengembangan daerah disekitar bendung, perubahan morfologi sungai daerah genangan yang tidak terlalu luas dan ketinggian tanggul banjir.
B. Penempatan Bendung di Sudetan Sungai
Penempatan bendung dulu dikenal hanya di palung sungai. Sudetan sungai adalah saluran yang dibuat untuk memindahkan aliran sungai dari palung aslinya.

Gambar 3.1.2. Bendung di sudetan
1) Keuntungan bendung ditempatkan di sudetan sungai yaitu :
a. Memudahkan pelaksanaan bendung tanpa gangguan aliran sungai dan tidak perlu terburu – buru karena gangguan musim
b. Arah aliran menuju bendung dan kehilirnya akan lebih baik
c. Untik mendapatkan tanah fundasi yang lebih baik
d. Penempatan lokasi intake, kantong sedimen dan saluran akan lebih baik
2) Kesulitannya yaitu :
a. Membuat tanggul penutup sungai yang kadangkala cukup tinggi dan berat
b. Diperlukan pula bangunan pengelak khusus dalam pelaksanaan pembuatan tanggul penutup tersebut.
c. Adakalanya perlu penyeberangan saluran induk diatas palung sungai asli.

3) Tata letak yang tepat untuk sudetan bergantung kepada keadaan geotek, topografi dll. Yagn dipertimbangkan pada pengaturan alur sudetan yaitu :
a. Perubahan morfologi sungai diusahakan sesedikit mungkin
b. Penurunan dasar sungai/sudetan di hilir bendung akan terjadi sehingga penentuan kedalaman koperan bangunan/bendung harus dipertimbangkan.


C. Contoh Penempatan Bendung di Sudetan Sungai
1) Bendungan Indrapura di Batang Indarapura, Sumatra Barat.


Gbr 3.2 Bendung Indrapura di Sudetan Sungai Indrapura



2) Bendungan Metawa di Sungai Metawa, Sulawesi Tengad (Gbr. 3.1.C2)









Gbr 3.3 Bendung Metawa di Sudetan Sungai Metawa
II. BENDUNG PELIMPAH
Bendung berfungsi untuk meninggikan muka air, agar air banjir sungai dapat disadap sesuai dengan kebutuhan dan mengendalikan aliran, angkutan sedimen dan geometri sungai sehingga air dapat dimanfaatkan secara aman, efektif dan optimal. Bendung sebagai pengatur tinggi muka air sungai dibedakan menjadi:
1) Bendung Pelimpah terdiri dari tubuh bendung (ambang tetap yang berfungsi untuk meninggikan taraf muka air sungai).
2) Mercu Bendung (berfungsi untuk mengatur tinggi air minimum, melewatkan debit banjir, dan untuk membatasi tinggi genangan yang akan terjadi di udik bendung).

A. Klasifikasi bendung
Bendung berdasarkan fungsinya dapat diklasifikasikan menjadi:
1) Bendung penyadap sebagai penyadap untuk irigasi.
2) Bendung pembagi banjir sebagai pengatur muka air sungai.
3) Bendung penahan pasang sebagai pencegah masuknya air asin.
Berdasarkan tipe strukturnya bendung dibedakan atas:
1) Bendung tetap.
2) Bendung bergerak.
3) Bendung kombinasi.
4) Bendung kembang kempis.
5) Bendung bottom intake.
Ditinjau dari segi sifatnya bendung dapat dibedakan atas:
1) Bendung permanent, seperti bendung pasang batu, beton dan kombinasi beton dan batu.
2) Bendung semi permanent, seperti bendung bronjong, cerucuk kayu.
3) Bendung darurat, seperti bendung tumpukan batu dan sebagainya.

B. Tata Letak Bendung dan Perlengkapannya
Bendungan tetap yang terbuat dari pasangan batu untuk keperluan irigasi terdiri atas beberapa komponen dan fungsinya:
1) Tubuh bendungan : terdiri dari ambang tetap dan mercu bendung dengan bangunan peredam energi. Bermaksud agar aliran utama menuju bendung dan yang keluar terbagi rata, sehinnga tidak menimbulkan pusaran-pusaran aliran diudik bangunan pembilas dan intake. Pusaran aliran dapat menimbulkan gangguan penyadap aliran ke intake dan pembilas sedimen.
2) Bangunan intake : terdiri dari ambang dasar, pintu, dinding banjir, pilar penempatan pintu, saringan sampah, jembatan pelayan, dan rumah pintu. Bangunan ini merupakan satu kesatuan dengan bangunan pembilas dan tembok pangkal diudiknya, intake diupayakan berada ditikungan aliran sungai, sehingga dapat mengurangi sedimen yang masuk ke intake.
3) Bangunan pembilas : dengan underscluice atau tanpa underscluice, pilar penempatan pintu, pintu bilas, jembatan pelayan, rumah pintu, dan saringan batu. Diletakkan berdampingan dengan intake untuk membentuk tikungan luar aliran dan mengurangi jumlah angkutan sedimen dasar masuk ke intake.
4) Bangunan perlengkapan : yaitu tembok pangkal, sayap bendung, lantai udik dan dinding tirai, pengarah arus tanggul banjir dan tanggul penutup atau tanpa tanggul, penangkap sedimen atau tanpa penangkap sedimen, tangga, dan penduga muka air.

C. Bentuk Bendung Pelimpah
Pelimpah lurus : Dibangun melintang dipalung sungai dan tegak lurus antara tembok pangkal dan pilar pembilas bendung, mengarah tegak lurus terhadap aliran utama sungai. (gbr. 3.4)


Pelimpah lengkung : Jarak lengkung biasanya sekitar 1/10 – 1/20 dari lebar bentang, bentuk ini akan melimpahkan aliran sungai lebih besar dibandingkan dengan bentuk lurus karena bentangnya lebih panjang. Umumnya dibangun didasar sungai dari jenis batuan keras sehingga penggerusan setempat hilir bendung tidak perlu dikhawatirkan.





Gbr. 3.5 Bentuk Pelimpah bendung
D. Mercu Bendungan
1. Defenisi dan Fungsi
Mercu bendungan yaitu bagian teratas tubuh bendung dimana aliran dari udik dapat melimpah kehilir. Fungsinya sebagai penentu tinggi muka air minimum disungai bagian udik bendung, sebagai penampang sungai dan sebagai pelimpah aliran sungai.
2. Bentuk Mercu Bendung
bentuk mercu bendung tetap yaitu:
1. Mercu bulat (1 jari–jari pembulatan).
2. Mercu bulat (2 jari–jari pembulatan).
3. Mercu tipe Ogee, SAF, dan mercu ambang lebar. (Gbr.3.6 Bentuk Mercu)
3. Tinggi Mercu Bendung (TMB)
Tinggi mercu bendung (p) yaitu ketinggian antara elevasi lantai udik/dasar sungai di udik bendung dan elevasi mercu. Menentukan TMB, harus dipertimbangkan:
1. Kebutuhan penyadap untuk memperoleh debit dan tinggi tekan
2. Kebutuhan tinggi energi untuk pembilas
3. Tinggi muka air genangan yang akan terjadi
4. Kesempurnaan aliran pada bendung
5. Kebutuhan pengendalian angkutan sediment yang terjadi di bendung.
Rumus Bucdschu dan Verwoerd, untuk perhitungan tinggi muka air adalah:
m = 1,49 – 0,018 {5 – (h/R)}2 k = 4/27 . m2 . h3 { 1/(h+p) }2
dimana: k = Tinggi kecepatan aliran
h = Tinggi muka air udik bendung
m = Koefisien pengaliran bendung
p = Tinggi mercu bendung kedasar sungai
R = Jari – jari pembulatan mercu bendung








Gbr. 3.7 Pengaturan Tinggi Mercu Bendung (P) dari lantai udik
4. Panjang Mercu Bendung
Panjang mercu bendung disebut pula lebar bentang bendung yaitu antara kedua tembok pangkal bendung (abutment), termasuk lebar bangunan pembilas dan pilar – pilarnya, disebut panjang Mercu Bruto. Yang diperhatikan dalam perhitungannya adalah:
1. Kemampuan melawan debit desain dengan tinggi jagaan yang cukup.
2. Batas tinggi muka air genangan maksimum yang diijinkan pada debit desain.
Panjang mercu bendung efektif (Be) yaitu panjang mercu bendung bruto (Bb) dikurangi dengan lebar pilar pintu pembilas. Artinya panjang mercu bendung yang efektif melawan debit banjir desain. Panjang mercu bendung efektif lebih pendek dari pada panjang mercu bendung bruto. Panjang mercu bendung efektif dapat diperhitungkan dengan cara:
1). Be = Bb – 20% ∑b - ∑t
2). Be = Bb – 2 (n . kp + ka) H
Dimana : Be : panjang mercu bendung efektif (meter)
Bb : Panjang mercu bendung Bruto (meter)
∑b : Jumlah lebar pembilas
∑t : Jumlah pilar – pilar pembilas
n : Jumlah pilar pembilas dan pilar jembatan
kp : Koefisien kontraksi pilar
ka : Koefisien kontraksi pangkal bendung
H : Tinggi energi, yaitu h + k ; h = tinggi air; k = V2 / 2g
Harga koef. Pilar dapat dilihat pada standar perencanaan irigasi, KP-02





Gbr. 3.8. Panjang mercu bendung
5. Penentuan Elevasi Mercu Bendung
Elevasi mercu bendung ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan :
1) Elevasi sawah tertinggi yang akan diairi, dan keadaan tinggi air sawah
2) Kehilangan tekanan mulai dari intake sampai dengan saluran tersier ditambah kehilangan tekanan akibat exploitasi.
3) Tekanan yang diperlukan agar dapat membilas sedimen di undersluice dan kantong sedimen.
4) Pengaruh elevasi mercu bendung terhadap panjang bendung untuk mengalirkan debit benjir rencana, dan mendapatkan sifat aliran sempurna.
6. Peninggian Mercu Bendung
Peninggian mercu sangat menimblkan dampak yang baik, yaitu:
1) penyadapan air tidak terganggu, sehingga daerah irigasi yang diari menjadi kurang.
2) Tinggi energi yang dibutuhkan bertambah, sehingga pembilas sedimen oleh undersluice dan di kantong sediment sangat baik.
7. Tinggi Muka Air di atas Mercu Bendung
Tinggi Muka Air di atas Mercu dapat dihitung dengan persamaan tinggi energi – debit untuk ambang bulat dan pengontol segi empat, yaitu:

dimana : Qd = debit desain, m3/det
Cd = koefisien debit ( Cd = C0 . C1 . C2 )
g = percepatan gravitasi
b = panjang mercu efektif (m)
H = tinggi energi diatas mercu (m)
Penentuan Koef. Debit (Cd), dapat dilihat standar perencanaan irigasi KP.02






Gbr. 3.9. Cara peninggian Mercu Bendung Gbr. 3.10. Tinggi Muka Air di Atas Mercu Bendung
III. BANGUNAN INTAKE
A. Defenisi dan Fungsi
Bangunan intake adalah suatu bangunan pada bendungan yang berfungsi sebagai penyadap aliran sungai, mengatur pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen dasar sungai dan sampah masuk ke intake.

B. Tata Letak
Tata letak intake diatur seperti berikut :
1. Sedekat mungkin dengan bangunan pembilas, dan merupakan satu kesatuan dengan pembilas serta tidak menyulitkan penyadapan aliran
2. Tidak menimbulkan pengendapan sedimen dan turbulensi aliran diudik intake.
C. Macam Intake
Intake biasa yaitu intake dengan pintu berlubang satu atau lebih dan dilengkapi dengan pintu dinding banjir, lebar satu pintu tidak lebih dari 2,5 m dan diletakkan dibagian udik. (Gbr.3.11)
Intake gorong – gorong : tanpa pintu dibagian udik, pintu – pintu diletakkan dibagian hilir gorong – gorong, lubang intake lebih dari dengan lebar masing – masing lubang tidak kurang dari 2,5 m. (Gbr.3.12)
Intake frontal : diletakkan ditembok pangkal, jauh dari bangunan pembilas/bendung. (Gbr.3.13)
D. Arah Intake, Komponen dan Letak Bangunan
1. Arah Intake (Gbr.3.14): terhadap suhu sumbu sungai dapai diatur sbb:
a. Tegak lurus membentuk sudut sekitar 90o pada sumbu sungai
b. Menyudut membentuk sudut 45o - 60o terhadap sumbu sungai
c. keadaan tertentu ditetapkan
d. berdasarkan hasil uji model hidraulik laboratorium.
Komponen utama bagian intake (Gbr.3.15), adalah sebagai berikut:
a. Ambang/lantai dinding bangunan tembok sayap, Pintu, perlengkapannya serta dinding penahan banjir. Pilar penempatan pintu bila pintu lebih dari 1 buah, dan jembatan pelayan.
b. Rumah pintu, saringan sampah, sponeng dan sponeng cadangan dll.

2. Letak Intake (Gbr.3.16) : Diatur sedemikian rupa supaya berada ditikungan luar aliran, sehingga pada keadaan banjir angkutan sedimen dasar yang mendekat keintake akan terlempar ketikungan dalam menjauhi intake.
E. Bentuk dan Ukuran Hidraulik
1. Lantai Intake : lantai intake dirancang datar / miring dihilir pintu, bila lantai intake di awal kantong sedimen bisa berbentuk datar dengan kemiringan tertentu. Ketinggian intake, yaitu: sama tinggi dengan plat lantai undersluice, sampai 0,5 m diatas plat undersluice. Tergantung pada keadaan.
Bila ditempatkan pada bangunan pembilas tanpa undersluice maka ketinggiannya: Sungai mengangkut lanau, tingginya (0,5m), pasir dan krikil (1,0m), kerakal dan bongkah (1,5m). Dan tergantung keadaan.











Gbr.3.17 Contoh Letak Lantai Intake
2. Lebar dan Tinggi Lubang Intake : dimensi lubang penyadap aliran harus ditentukan berdasarkan kebutuhan air maksimum, baik untuk pemasokan kebutuhan air maupun untuk pembilasan sedimen dikantong sedimen.
a) Lebar lubang intake dapat dihitung:
atau
dimana: Q1 = Debit intake (m3/det)
c dan µ = Koefisien pengaliran
a = Tinggi duka lubang
g = Percepatan gravitasi
z = Kehilangan tinggi energi (m)
b) Tinggi Pintu intake (h) : berbanding dengan lebar pintu (b), dapat diambil dengan perbandingan:
b : h = 1 : 1 atau b : h = 1,5 : 1 atau b : h = 2 : 1
F. Pilar Intake dan Dinding Banjir
1. Pilar untuk penempatan pintu : bila lebar intake lebih dari 1m maka diperlukan pilar untuk penempatan pintu. Penempatan pilar diatur:
a. bagian awalnya diletakkan agak mundur sebesar (R), supaya aliran yang masuk lebih mulus.
b. Bentuk awal pilar bulat dan tegak atau dengan kemiringan.
c. Bagian hilirnya dapat dibuat tegak / miring, ketebalan pilar 0,7 – 1 m.
2. Dinding Banjir dan Sponeng (Gbr.3.18): Diletakkan dihilir pintu intake. Fungsinya untuk mencegah aliran banjir, masuk ke intake mengurangi kecepatan aliran yang menuju intake, berkaitan dengan pengendalian pergerakan angkutan muatan sedimen ke itntake.

G. Dua Intake di Satu Sisi Bendung
1. Maksud
seharusnya untuk kedua irigasi yang terletak dikedua sisi bendung dibangun dua pula intakenya. Tetapi bila salah satu irigasi debit pengambilannya kurang 1 m3/detik, maka intake dapat dibuat satu sisi saja.untuk menghemat biaya pembilas, karena hanya dibuat satu buah bangunan pembilas yang berdekatan dengan intake tersebut.
2. Desain
Desain dua banguna intake yang ditempatkan disatu sisi bendung diatur:
a) pintu intake yang ditempatkan di pilar pembilas,
b) gorong–gorong untuk menyeberangkan aliran ditempatkan didalam tubuh bendung,
c) kecepatan aliran didalam gorong – gorong diambil 2,5 m/det sehingga dapat menghanyutkan sedimen yang masuk kedalam gorong–gorong, tetapi tidak pula terlalu tinggi untuk menghindari bahaya pengikisan.
d) Fasilitas pembilas sedimen dirancang tepat di pengeluaran gorong-gorong diawal saluran induk.
e) Tebal pilar pembilas 2 m ≤ t, dimana (tminimum= 1,0 m)










Gbr 3.19 Penempatan Pintu Intake di Pilar
IV. BANGUNAN PEMBILAS
A. Defenisi dan Fungsi
Bangunan pembilas adalah salah satu perlengkapan pokok bendung yang terletak didekat dan menjadi satu kesatuan dengan intake. Berfungsi untuk menghindarkan angkutan muatan sedimen dasar dan mengurangi angkutan muatan sedimen layang masuk ke intake.
B. Sistem Kerja Pembilas dengan Undersluice
Sistem kerja pembilas dengan undersluice bila dioperasikan yaitu:
1. Aliran sungai dari udik menuju bangunan terbagi 2 lapis oleh pilar undersluice
2. Aliran sungai lapisan atas yang relatif tidak mengandung sedimen dasar mengalir ke intake.
3. Aliran sungai dilapisan bawah bersama –sama dengan sedimen dasar mengalir dan masuk ke lubang undersluice, lalu terbuang kehilir melalui pintu bilas.
4. Pembilasan secara berskala sehingga mendapatkan kedung daerah bebas endapan diudik dan dimulut intake atau undersluice.

C. Macam Bangunan dan Tata Letak
1. Macam bangunan, dibedakan atas:
a. Bangunan pembilas konvensional terdiri 1 dan 2 pintu, umumnya dibangun dibendung kecil (bentang 20m). Seperti bangunan tua warisan belanda.
b. Bangunan pembilas undersluice untuk bendungan irigasi, ditempatkan pada bentang dibagian sisi yang arahnya tegak lurus sumbu bendung.
c. Bangunan pembilas shunt undersluice digunakan di bendung sungai ruas hulu, untuk menghindarkan benturan batu/benda padat lainnya terhadap bendungan.
2. Tata Letak

Tata letak bangunan pembilas undersluice diatur sbb:
a. Bersatu dengan bangunan intake,
b. Pintu pembilas diletakkan segaris dengan sumbu bendung,
c. Bengunan diletakkan di sisi luar tubuh bendung dekat tembok pangkal, arahnya tegak lurus sumbu bendung,
d. Mulut undersluice mengarah keudik bukan kearah samping.
Tata letak bangunan pembilas shunt undersluice diatur sbb:
a. Bersatu dengan bangunan intake,
b. Ditempatkan dibagian luar tubuh atau diluar tembok pangkal bendung,
c. Mulut undersluice mengarah ke samping bukan ke arah udik,
d. Pilar pembilas berfungsi sebagai tembok pangkal. (Gmbr 3.20 Tata letak )

D. Komponen dan Bentuk Bangunan
1. Komponen
Bangunan pembilas undersluice lurus terdiri:
a. Undersluice dan perlengkapannya. Bangunan Undersluice terdiri atas:
• Lubang / torowongan, plat undersluice, dan lantai dengan lapisan tahan aus.
• Tembok penyangga bila lubang lebih dari satu buah.
• Mulut undersluice, pintu bilas atas dan bawah, saringan batu dan sebagainya.
b. Pintu pembilas dan perlengkapannya.
c. Pilar-pilar penempatan pintu, tembok baya-baya / guide wall, tembok pangkal.
d. Jembatan pelayan, rumah pintu , tangga dll.

2. Bentuk Undersluice, Undersluice lurus dan shunt undersluice, dibagi atas:
a. Undersluice satu atau dua lubang dengan mulut sejajar sumbu bendung.
b. Undersluice 1 lubang/lebih dengan mulut menyudut terhadap sumbu bendung.
c. Undersluice 2 lubang/lebih dengan mulut menyudut terhadap sumbu bendung.

E. Tata Cara Desain, Urutan cara dalam mendesain Undersluice yaitu:
1. Tentukan lebar Undersluice, memperhatikan lebar (pintu bilas dan intake),
2. Tentukan arah dan letak mulut Undersluice,
3. Tentukan panjang Undersluice (5–20 m) dengan memperhatikan bahwa mulut Undersluice harus terletak diudik intake,
4. Tentukan letak elevasi plat bagian atas Undersluice dengan memperhatikan elevasi ambang atau lantai intake,
5. Tentukan ketebalan palt Undersluice (0,20–0,35 m),
6. Tentukan tinggi lubang dan elevasi lantai Undersluice, biasanya tinggi 1,5 m.

Gambar 3.4 Bangunan pembilas dengan tiga lubang dengan dinding bajir kombinasi pada bendung Cisokan, Cianjur- Jawa Barat( atas) dan pembilas tanpa under scluice ( bawah )
F. Dimensi Bangunan Undersluice
1. Pembilas undersluice lurus
a. bentuk mulut
1) Mulut undersluice diletakkan diudik mulut intake dengan arah tegak lurus,
2) Lebar mulur undersluice sluice harus lebih besar dari (1,2 x lebar intake),
3) Elevasi bagian atas palat undersluice diletakkan sama tinggi atau lebih rendah dari pada elevasi ambang/lantai intake, Lubang dapat terdiri dari atas 2 bagian atau lebih,
4) Bila lebar mulut bagian udik jauh lebih lebar dari bagian hilir dapat dipersempit dengan tembok penyangga.
b. Lebar bangunan
1) lebar pembilas total diambil (1/6 – 1/10) dari lebar bentang bendung untuk sungai – sungai yang lebarnya kurang dari 100 meter.
2) Lebar satu lubang maksimum 2,5 m untuk kemudahan operasi pintu dan jumlah lubang tidak lebih dari tiga buah.
c. Tinggi dan panjang undersluice
1) Tinggi lubang undersluice diambil 1,5 m
2) Panjang ditentukan, mulut undersluice harus terletak dibagian udik intake,
3) Bentuk lantai undersluice rata tanpa kemiringan.
d. Elevasi lantai lubang
1) sama tinggi dengan lantai udik bendung,
2) lebih rendah atau lebih tinggi dari lantai udik bendung.
















Gmbr.3.21 macam penempatan lantai lubang undersluice

2. Pintu Pembilas
Macam Pintu : dapat dibuat 1 pintu atau 2 pimtu yakni pintu atas dan bawah.
Fungsi Pintu : pintu bawah untuk pembilasan sedimen yang terdapat didalam, diudik dan disekitar mulut undersluice. Pintu atas untuk menghanyutkan benda–benda padat yang terapung diudik pintu.
Jenis Pintu : umumnya pintu sorong, dan hampir tidak dijumpai pintu radial.
Bahan Pintu : dibuat dari balok – balok kayu dengan kerangka baja.
Dinding Banjir : untuk pembilas dengan undersluice lurus biasanya tidak dilengkapi dengan dinding banjir. Pintu bilas tanpa dinding banjir dapat memperbesar kapasitas pelimpah debit banjir.
Desain : mendesain pintu, faktor – faktor yang harus diperhatikan adalah:
a. Beban yang bekerja pada pintu.
b. Alat pengangkat tenaga manusia atau dengan mesin.
c. Sistem kedap air dan bahan bangunan.
Ukuran:
a. Untuk 1 lubang/ruang pintu sorong yang dioperasikan dengan tenaga manusia lebar maks. 2,5 m, ukuran satu balok kayu pintu 20x25 cm.
b. Untuk pintu yang dioperasikan dengan mesin, lebar 2,5 m – 5,0 m.
c. Tinggi mercu pintu pembilas 1cm > dari elevasi mercu bendung.

3. Pilar Pembilas
Fungsi : Untuk penempatan pintu-pintu, undersluice dan perlengkapan lain.
Bahan : Umumnya terbuat dari tembok pasangan batu, beron bertulang sebagai bahan pilar jarang dibuat.
Bentuk : Bagian udik bulat dengan jari–jari pembulatan setengah lebar pilar. Bagian hilir runcing dengan jari-jari peruncingan 2x lebar pilar.
Ukuran: Lebar pilar sisi bagian luar dapat diambil sampai dengan 2 m dan sisi bagian dalam 1 – 1,5 m.
Penempatan : pada undersluice lurus ditempatkan dibentang sungai.

4. Sponeng dan Stang Pintu
Sponeng : Fungsi pada pintu sorong kayu, untuk menahan tekanan air pada pintu. Ukuran 25x25 cm atau 25x30 cm, dilengkapi dengan sponeng cadangan bentuk huruf T pada bangunan bilas dengan undersluice.
Stang pintu : Berfungsi mengangkat dan menurunkan pintu. Ditempatkan dalam sponeng diluar bukaan bersih. Jumlah stang pintu 2 buah diletakkan dibagian dalam dike-2 sisi, tidak 1 buah di tengah.
5. Tembok baya – baya
Fungsi : Tembok baya/guidewall adalah untuk mencegah angkutan sedimen dasar meloncat dari udik bendung keatas plat undersluice.
Penempatan : Tembok baya–baya ditempatkan menerus kearah udik dari plat pembilas bagian luas / sisi bendung.
Bentuk : Mengecil kearah udik / sama besar dari hilir keudik.
Ukuran : Tinggi mercu tembok gaya – gaya 0,5 – 1m diatas mercu bendung.
6. Pengoperasian Pintu
a. Kriteria pengoperasian
• Kecepatan aliran diambang undersluice harus terbatas sehingga tidak masuk lantai underscluice,
• Pintu bilas harus ditutup selama sengai banjir untuk menghindarkan penghisapan sampah-sampah yang dapat menyumbat lubang underscluice,
• Tinggi bukaan pintu bilas harus diatur sedemikian, supaya tidak menimbulkan pusaran isap atau menimbulkan bahaya kavitasi.
b. Masalah Rongga dibawah Plat
Rongga udarah dibawah plat undersluice dapat terjadi bila:
• Pintu bilas dibuka penuh, Muka air hilir terlalu rendah,
• Tidak terjadi pelimpah dari mercu pintu bilas.
Mengatasi hal diatas dilakukan cara:
• Pintu bilas tidak dibuka penuh, Ujung plat diudik undersluice dibuat bulat,
• Pengoperasian pintu diatas sehingga tidak terjadi pusaran isap.
7. Dinding Banjir
Dinding banjir pada pembilas bendung dibedakan:
a. Tanpa dinding banjir
b. Dengan dinding banjir
c. Kombinasi keduanya
Manfaatnya:
• Memperbesar kapasitas debit pelimpah banjir. Dan sampah yang terapung diudik pintu bilas dapat dibuang secara hidraulik dengan mudah.
Kelemahan:
• Dapat merusak pintu dan stangnya waktu banjir, karena tekanan banjir dan sampah.
• Mudah menumpukkan sedimen diudik pintu bangunan pembilas.
G. Pembilas Shunt Undersluice
1) Pengertian
Adalah bangunan undersluice yang penempatannya diluar bentang sungai dan diluar pangkal bendung, dibagian samping melengkung kedalam dan terlindung tembok pangkal.
2) Maksud dan Manfaat
Pembilas shunt undersluice dipilih pada bendung-bendung yang dibangun disungai ruas hulu. Bermaksud agar pilar dan bangunan undersluice terhindar dari bahaya benturan batu dan kayu yang hanyut sewaktu banjir. Manfaatnya yaitu kapasitas pelimpah bendung tidak dikurangi oleh adanya pilar pembilas atau seluruh bentang bendung tidak terganggu melimpahkan debit banjir sungai.
3) Cara Kerja dan Kelemahan
Cara:
a. Air yang mengalir sebelum masuk keintake terbagi 2 yaitu atas dan bawah.
b. Lapisan air bagian bawah masuk kedalam lubang pembilas.
c. Lapisan air bagian atas mengalir masuk ke intake.
Kelemahan:
Kurang diperolehnya efek penggurusan dimulut shunt undersluice yang diakibatkan aliran helicoidal seperti yang biasanya terbagi pada bangunan undersluice.
4) Bentuk dan Ukuran
a. Tinggi lubang 1–2 m, diusahakan 1,5 m. Lebar sekitar 2 m.
b. Mulut undersluice mengarah kearah bendung bukan kearah udik.
c. Bentuk melengkung kearah luar bendung.
d. Umumnya dilengkapi dengan dinding banjir ditempatkan dihilir pintu bilas.

H. Pengoperasian Pintu Pembilas
Pembukaan Pintu; dilakukan dengan cara:
1. Pembilasan sistem terus-menerus, pintu bilas dibuka sewaktu-waktu.
2. Pintu bilas bibuka dengan tinggi bukaan tertentu bila selesai banjir atau banjir sungai mulai turun
3. Pintu bilas bukaan pintu tergantung pada besar debit sungai dan keadaan tinggi muka air sungai. Pintu bilas ditutup selama banjir sungai berlangsung
4. Pintu bilas ditutup penuh saat pengaliran keintake dan saat air kecil dan banjir.
Pengangkatan dan Penutupan Pintu; yang dilakukan oleh tenaga manusia akan lebih mudah dan ringan bila ulir tempat perputaran stang pintu terbuat dari bahan tembaga.
Evektifitas Pembilas; akan sangat tinggi bila terdapat head yang cukup, debit sungai yang memadai dan tinggi bukaan pintu bilas yang sesuai daerah bebas endapan dimulut undersluice selalu terjadi.
V. BANGUNAN PENAHAN BATU (BOULDER SCREEN)
1. Defenisi dan Fungsi
Bangunan penahan batu adalah bangunan ditempatkan diudik bangunan pembilas bendung, terdiri dari barisan tiang-tiang. Berfungsi sebagai alat untuk mencegah batu-batu dengan diameter tertentu yang akan masuk keintake dan menyimpan batu dengan diameter tertentu masuk kebangunan bilas/intake kearah bendung.
2. Persyaratan
Mendesain bangunan penahan batu, diperhatikan debit yang masuk keintake tidak berkurang dari jumlah yang dibutuhkan karena adanya kemungkinan terjadinya endapan batu diantara batang-batang cerucuk.
3. Penempatan
Ditempatkan diudik/undersluice dengan arah desain sedemikian, sehingga tercipta tikungan luar aliran dan menjadi deflector untuk melemparkan angkutan sedimen dasar menjauh dari intake dan dapat pula menyimpan batu tertentu.
4. Komponen, bangunan penahan batu terdiri atas:
a. barisan cerucuk pipa bulat dipasang vertikal,
b. balok beton sebagai pengikat horizontal, fundasi bangunan.
5. Tipe Bangunan
Tipe penahan batu dibuat dengan bentuk pagar yang terdiri dari batang tegak dan bagian atasnya diikat dengan balok pengikat.
6. Bentuk dan Ukuran
a. Pipa untuk cerucuk, tipe pipa dipilih yang bulat
b. Balok beton pengikat, dipasang horizontal diujung atas cerucut vertikal.
c. Elevasi balok pengikat, diletakkan diketinggian 1–2 m diatas mercu bendung.
d. Jarak antara tiang, jarak bersih antara batang satu dan yang lain diambil sesuai dengan diameter butir batu yang akan ditahan atau (15 – 20) cm.
e. Fundasi tiang, disesuaikan kedalamannya dengan kedalaman elevasi dasar sungai dan lantai undersluice.
7. Penerapan Bangunan Penahan Batu
Pada bendungan Cisokan – Cianjur jawa barat tahun 1886. dan direhabilitasi pada tahun 1989 dengan peninggian mercu bendung, perbaikan intake, pembangunan pembilas tambahan tipe undersluice, dan bangunan penahan. Masalah besar dijumpai pada bendungan ini adalah masalah angkutan sedimen yang cukup besar ke intake. Untuk mencegah angkutan sedimen dasar masuk ke intake, membangun pengelak sedimen tipe undersluice lurus bentuk tertentu, sehingga:
1) Dapat menciptakan aliran helicoidal tepat diudik undersluice sehingga pengendapan sedimen dasar didaerah ini dapat dihindari.
2) Dapat membentuk daerah bebas endapan tepat di udik undersluice dan menciptakan “skiming wall” ke intake.



VI. BANGUNAN PEREDAM ENERGI
1. Defenisi dan Fungsi
Adalah struktur dari bagunan dihilir tubuh bendung yang terdiri dari berbagai tipe, bentuk dan dikanan kirinya dibatasi oleh tembok pangkal bendung dilanjutkan dengan tembok sayap hilir dengan bentuk tertentu. Fungsi bangunan adalah untuk meredamkan energi akibat pembendungan, agar air dihilir bendung tidak menimbulkan penggerusan setempat yang struktur membahayakan.

2. Tipe Bangunan Peredam Energi Bendung, terdiri berbagai macam tipe:
a. Lantai hilir mendatar, tanpa atau dengan ambang hilir balok lantai,
b. Cekung masif dan cekung bergigi, berganda dan bertangga,
c. Kolam loncat air, Kolam bantalan air dan lain – lain.

3. Faktor Pemilihan Tipe, antara lain:
a. Tinggi bendungan, Keadaan geoteknik tanah dasar ,
b. Jenis angkutan sedimen yang terbawah aliran sungai
c. Kemungkinan degradasi dasar sungai yang akan terjadi dihilir bendung ,Keadaan aliran yang terjadi dibangun peredam energi seperti aliran tidak sempurna/tenggelam, loncatan aliran yang lebih rendah atau lebih tinggi dan sama dengan kedalaman muka air hilir (tail water).
4. Prinsip Pemecahan Energi
Adalah dengan cara menimbulkan gesekan air dengan lantai dan dinding struktur, gesekan air dengan air, membentuk pusaran air berbalik vertikal arah keatas dan ke bawah.

5. Desain Hidraulik Peredam Energi
5.1 Peredam energi lantai hilir datar dengan ambang akhir
1) Defenisi dan Fungsi
Adalah bagian dihilir bendung yang merupakan kolam olak terdiri atas lantai hilir mendatar. Fungsinya untuk meredam energi air agar tidak menimbulkan penggerusan setempat yang membahayakan bangunan bagian hilir.
2) Bentuk Hidraulik, yaitu:
a) Mercu bendung bertipe bulat,
b) Tubuh bendung bagian hilir tegak sampai dengan kemiringan 1:1,
c) Tanpa lengkungan dipertemuan kaki bendung dan lantai,
d) Lantai hilir berbentuk datar tanpa kemiringan,
e) Untuk menambah keamanan tepat dihilir ambang akhir dan dikaki tembok sayap dipasang rip – rap dari batu berdiameter 0,3 – 0,4 m.
3) Persyaratan, yaitu:
a) Tinggi air diatas mercu bendung (< 4m), tinggi bendung dari dasar sungai bagian hilir (< 10m),
b) Bila melampaui keadaan diatas, maka dilakukan pemeriksaan uji model fisik.
4) Ukuran Hidraulik
Kedalaman lantai (Ds), Panjang lantai (L), Tinggi ambang (a), dan parameter lain ditentukan berdasarkan grafik – grafik yang telah disiapkan.
5.2 Peredam energi cekung
1) Umum
Tipe ini biasanya digunakan pada bendungan yang berlokasi pada sungai dengan kemiringan dasar sungai curam dengan angkutan sedimen batu gelundung yang terbawa aliran sewaktu banjir. Ide pemanfaatan tipe ini, untuk menggantikan tipe drop weir.
2) Defenisi, Fungsi dan macamnya
peredam energi cekung adalah bagian dihilir tubuh bendung berbentuk lantai cekung masif, dilengkapi dengan ambang akhir (apron lip) dan dibatasi oleh tembok pangkal sibagian kanan kirinya. Berfungsi untuk menjauhkan bendung penggerusan setempat dari bangunan dan menghindarkan benturan batu langsung pada permukaan bangunan. Peredam energi cekung terdiri atas:
a. Masif cekung tanpa gigi
b. Cekung dengan gigi yang ditempatkan dibagian ambang akhir.
3) Sifat dan Prinsip Pemecahan Energi
Bangunan peredam energi tipe cekung, bersifat:
a. Aliran pusaran balik atas dan pusaran balik bawah.
b. Aliran loncat (skijump bucket).


4) Bentuk dan Ukuran
Bentuk hidraulik bangunan tipe ini, yaitu (Gbr.3.22):
a. Mercu bendung bertipe bulat
b. Tubuh bendung bagian hilir dengan kemiringan 1:1.
c. Cekungan berbentuk lengkung dengan satu radius,
d. Harus dilengkapi dengan tembok sayap hilir yang awalnya dimulai dari akhir ambang akhir. Bentuk sayap hilir miring.
Ukuran hidraulik bangunan tipe ini, yaitu selain diatas, yang terpenting penentuan jari – jari lengkungan (R) dan kedalaman lantai cekungan dari muka air hilir (T).
5.3 Peredam energi berganda
1) Umum
Tipe ini sangat cocok dibangun sudetan sungai dengan ketinggian lebih dari 10m.
2) Defenisi dan keuntungan
Adalah struktur dibagian hilir tubuh bendung yang merupakan kolam olak berganda, dan masing – masing dilengkapi dengan lantai datar dan ambang akhir pembentuk olakan.
Keuntunga:
a. Pemetaan energi air lebih besar karena dua ruang olakan, sehingga penggerusan setempat menjadi lebih dangkal.
b. Jauh lebih stabil karena bentuknya yang besar.
c. Kerusakan lantai dan tubuh bendung akibat terjunan dapat dihindari.
3) Persyaratan
stabil, aliran yang melimpah pada mercu pertama dan diatas mercu kedua harus kelihatan halus dan tidak bertubulensi
pipa aliran tidak meninggalkan mercu bendung.
4) Bentuk dan Ukuran
Bentuk hidraulik bangunan tipe ini, yaitu:
Peredam energi bagian lantai atas yaitu lantai olakan pertama (L1), mercu pertama dengan tinggi (P1). Dan bagian bawah terdiri mercu kedua dengan tinggi (P2), lantai olakan kedua (L2), dan ambang akhir.
Ukuran panjang olakan dan tinggi ambang, yaitu: olakan pertama dan kedua , serta tinggi mercu kedua. Untuk penentuan ukuran hidrauliknya biasanya digunakan bantuan model fisik.









Gbr. 3.23 Peredam Energi berganda
5.3 Peredam energi tipe USBR
Tipe ini didesain berdasarkan grafik USBR untuk bendung akan kurang handal karena:
1) Elevasi dasar sungai didesain sama tinggi dengan elevasi lantai,
2) Pengaruh bergradasi sungai dan bentuk tembok sayap hilir tidak disinggung,
3) Pengaruh tipe dan ukuran tidak disinggung efektivitasnya terhadap pengurangan penggerusan setempat.
Menentukan ukuran dalam Hidraulic Design of Stilling Basin and Energy Dissipators USBR, dimana:
1) Panjang lantai, chute block, floor block and endsill ditentukan berdasarkan bilangan Froude (Fr), dan Lokasi Fr di kaki spillway,
2) Aliran air dikaki spillway dianggap loncatan penuh tanpa pusaran,
3) Kecepatan aliran dimana, z = tinggi terjung yang dihitung dari mercu spillway ke pipa arus dikaki spillway, dan D1 = tebal pipa arus.
Bila penggunaan USBR, menjadi over desain yang disebabkan oleh antara lain:
1) Adakanlah tidak berbentuk loncatan balik diatas lantai dan adakalanya aliran yang terjadi lebih tinggi dari tail water.
2) Perbedaan aliran bilangan Fr (Gmr 3.34) karena keadaan aliran loncatan penuh pada spillway dan loncatan balik pada bendung dan tebal aliran di kaki spillway (D1) lebih kecil dari pada tebal aliran di kaki bendung (D2), akibat bilangan pada bendung akan lebih kecil dari pada bilangan Fr pada spillway, atau untuk:
3) Spillway, ; → Loncatan Penuh
4) Spillway, ; → Loncatan Balik
5) Fr2 < Fr1








Gbr. 3.24 Sifat Peredam Energi USBR











Gbr. 3.25 Bentuk dan Tipe Peredam Energi USBR

VII. TEMBOK SAYAP, TEMBOK PANGKAL DAN PENGARAH ARUS
7.1 Tembok Sayap Hilir
1) Definisi dan Fungsi
Tembok sayap hilir adalah tembok sayap yang terletak dibagian kanan dan kiri peredam energi bendung yang menerus kehilir dari tembok pangkal bendung. Fungsi sebagai pembatas, pengarah arus, penahan terowongan dan longsoran tebing sungai dihilir bangunan dan pencegah aliran samping.
2) Penentu Dimensi
a. Dimensi berdasarkan peredam energi, dan Geometri sungai disekitar,
b. Dihilirnya, dan Tinggi muka air hilir desain, dan Penggerusan setempat yang akan terjadi dan sebagainya.
3) Bentuk Sayap hilir
a. bentuk miring sebagai kelanjutan dari tembok pangkal bendung,
b. bagian ujung hilir tembok sayap dibulatkan dan masuk kedalam tebing,
c. bagian awal tembok sayap hilir yang miring dan akhir tembok pangkal dimulai dari sekitar tengah – tengah lantai peredam energi.
4) Ukuran Tembok Sayap
a. panjang tembok bagian yang lurus yaitu
dimana: Lp = Panjang lantai datar peredam energi
Lx = Panjang tembok sayap (1,25 – 1,5) x L
b. Kemiringan tembok sayap dapat diambil dengan kemiringan 1 : 1















Gbr. 3.26 Ukuran Tembol Sayap hilir


















Gbr. 3.27 Bentuk Ujung Tembok Sayap Hilir Bendung Lamasi (SulSel)
7.2 Tembok Pangkal bendung
1) Definisi dan Fungsi
Tembok pangkal bendung adalah tembok yang terletak dikiri kanan pangkal bendung dengan tinggi tertentu yang menghalangi luapan aliran pada debit desain tertentu kesamping kanan dan kiri. Berfungsi sebagai pengaruh arus agar aliran sungai tegak lurus (frontal) terhadap sumbu bendung, sebagai penahan tanah, pencegah rembesan samping, pangkal jembatan dan sebagainya.
2) Bentuk dan Ukuran Hidraulik
Bentuk pangkal bendung umumnya ditentukan vertikal dengan ukuran panjang ke udik dan kehilirnya yang sesuai dengan fungsi yang harus dicapai. Ukuran Hidraulik:
a. Tinggi pangkal bendung = tinggi muka air udik rencana + tinggi jagaan (free board) sebesar (1 – 1,5) m, atau aman pada debit desain tertentu.
b. Panjang tembok pangkal ke udik dipebgaruhi oleh adanya bangunan intake dan tata letak jembatan lalu lintas.
7.3 Tembok Sayap Udik dan Pengaruh Arus
1) Definisi dan Fungsi
Tembok sayap udik adalah tembok sayap yang menerus keudik dari tembok pangkal dengan bentuk dan ukuran yang disesuaikan dengan fungsinya sebagai pengaruh arus, pelindung tebing dan atau pelindung tanggul penutup dari arus yang deras.
2) Ukuran dan Bentuk
Arah dan ukuran disesuaikan dengan fungsinya sebagai pengarah arus pelindung tebing atau tanggul penutup dan disesuaikan dengan pangkal bendung dari geometri badan sungai. Berbentuk: miring dengan perbandingan 1 : 1 atau 1 : 1½. Pertemuannya dengan tembok pangkal dibuat menyudut kurang lebih 45o( Gbr 3.28).
VIII. RIP – RAP
1. Defenisi dan Fungsi
yaitu susunan bongkahan batu alam atau blok-blok beton buatan dengan ukuran volume tertentu sebagai peredam energi dihilir bendung. Fungsinya sebagai lapisan prisai untuk mengurangi kedalaman pergeseran setempat dan melindungi tanah dasar dihilir peredam energi bendung.

2. jenis Rip – Rap, dibedakan atas:
a. Timbunan bongka batu alam
b. Susunan blok – blok beton berbentuk segi empat, segi panjang dan lain – lain.
3. Penempatan, Pada:
a. Sepanjang bagian hilir ambang akhir
b. Sepanjang bagian kaki tembok sayap hilir.
4. Bentuk dan Ukuran, pada rip – rap bongkahan batu:
a. Bentuk batu relatif bulat, keras dengan berat jenis 2,4 t/m3
b. Diameter batu berkisan 0,30 m, dan Volume batu yang cukup
c. Kedalaman sekitar 2 m untuk bagian hilir ambang akhir, dan sekitar 1,5 m untuk bagian dihilir tembok sayap hilir.
5. Sistem Kerja Rip – Rap:
Dihilir terjadi kecepatan aliran sungai yang besarnya bervariasi, rip – rap yang terdiri dari susunan batu – batu lepas yang terkena aliran deras akan menyebar, masuk dan menutup lubang pengerusan setempat, sehingga terjadi perisai/pelindung dasar sungai dari bahaya penggerusan.
6. Pemasangan Rip – Rap:
Desain rip – rap batu dihilir dipasang miring dan rata.













Gbr. 3.29 Bentuk Pemasangan Rip - Rap
7. Rip – Rap Beton:
Rip – rap beton bentuk persegi panjang (1x1x2)m, digunakan untuk pengamanan bendung walahar (gmbr 3.20). Dan rip – rap beton persegi empat digunakan dikaki sayap hilir bendung rentang dijawa barat.


















Gbr. 3.30 Contoh Penggunaan Rip – Rap Beton

8. Rip – rap Bronjong
Penggunaan bronjong kawat dihilir bangunan peredam energi bendung bermaksud mengurangi bahaya penggerusan setempat. Sebagai perlindungan dasar sungai dari bahaya penggerusan setempat, tetapi dari pengalaman – pengalaman penempatan rip – rap bronjong kurang berhasil, disebabkan:
a. Bronjong yang bukan jenis bronjong maccafferi berkarat, kurang tahan terhadap gaya benturan batu dan benda padat lain yang terbawa aliran sungai,
b. Batu tidak seragam dan bila kawatnya putus maka batu – batu itu akan hanyut,
c. Karena perbedaan kekerasan antara bronjong dan tanah dasar dihilirnya.
d. Karena bronjong flexible dan bila terjadi penggerusan setempat dihilirnya maka bronjong itu akan ikut turun.

IX. STABILITAS BENDUNG
1 Umum
Salah satu persyaratan keamanan yaitu: Harus stabil terhadap geser, guling dan piping.
Gaya – gaya yang bekerja pada bangunan, yaitu:
a. Berat sendiri bangunan,
b. Tekanan air normal setinggi bendung dan setinggi muka air banjir desain,
c. Tekanan lumpur,
d. Gaya gempa, tekanan air dibawah bendung/uplift.
2 Langkah Perhitungan
1) Hitung berat sendiri bangunan, yaitu:
a. Tubuh bendungan saja
b. Gaya yang bekerja
c. Momen gaya – gaya tersebut
d. Jumlah seluruh gaya yang bekerja dan momennya dari bagian yang ditinjau.
2) Pengaruh Gempa: koefisien gempa kali gaya lintang
3) Tekanan air normal: tekanan air setinggi mercu bendung terhadap tubuh bendung.
4) Tekanan Banjir: tekanan setinggi muka air banjir pada debit banjir desain.
5) Tekanan Lumpur: tekanan lumpur terhadap bangunan hidraulik diudik bendung.

3 Contoh Perhitungan
a. Stabilitas Bangunan
1) Hitung berat sendiri bangunan (Volume, Berat, Jarak titik berat terhadap sumbu Y & X, serta momen tahanan),
2) Tentukan koefisien Gempa (dari peta gempa Indonesia),
3) Hitung gaya horizontal pada keadaan air normal dan keadaan air banjir,
4) Hitung gaya tekanan lumpur serta momen tahanannya,
5) Hitung gaya tekanan uplift disetiap titik untuk keadaan air normal dan banjir.
dan
dimana : Ux = Gaya tekanan keatas titik x (kg/m)
Hx = Tinggi energidiudik bendung (m)
Lx = Jarak sepanjang bidang kontak dari udik sampai titik x (m)
L = Panjang total bidang kontak (m)
Lv = Panjang bidang vertikal (m)
LH = Panjang bidang horizontal (m)
6) Periksa stabilitas bangunan untuk keadaan air normal dan keadaan air banjir. Pemeriksaan dilakukan terhadap bahaya:
a) Guling : faktor keamanan (Fk) = MT / MG 1,5
b) Geser : Koefisien geser (f) = tg
Gaya tahanan = f . v = ...(ton)

Dimana: MT = Momen tahanan
MG = Momen gempa
c) Eksentrisitas pembebanan atau jarak dari pusat gravitasi dasar sampai titik potong resultante dengan dasar.

dimana : e = Eksentrisitas
B = Lebar dasar
MT = momen tahanan
MG = momen guling
V = Jumlah gaya vertikal



7) Periksa terhadap daya dukung tanah pada keadaan air normal dan keadaan air banjir.
a) Hitung tegangan ijin = σ
b) Hitung tegangan tanah.
; dan persyaratan yaitu :
dimana : σ1,2 = Tegangan Tanah
V = gaya – gaya vertikal
B = Lebar dasar
E = Eksentrisitas

b. Panjang Lantai Udik
1) Periksa dan tentukan harga Weighted Creep Ratio (C)
2) Hitung perbedaan antara tinggi muka air udik dan hilir
3) Hitung panjang garis rayapan yang dihitung dengan cara lane:

Dimana: LW = Panjang garis rayapan total
LV = Panjang garis rayapan dalam arah vertical
LH = Panjang garis rayapan dalam arah horizontal
4) Periksa panjang garis rayapan.
c. Tebal Lantai Hilir
1) Ambil tebal lantai hilir untuk potongan yang paling tebal dan paling kecil (t).
2) Tentukan berat jenis bahan, .
3) Tentukan tekanan Uplift, dengan rumus pasal (a. Bagian 5)
4) Periksa syarat keseimbangan, bila , maka ketebalan lantai yang ditentukan memadai.






Gbr. 3.31 pemeriksaan Tebal Lantai Hilir

1 komentar: